Wednesday, January 17, 2007

a night with the penguins


Kalo ditanya ‘apakah hewan kesukaan Anda sepanjang masa?’, dengan tegas gw jawab ‘Anjing’ [baik hidup maupun siap dimakan]. Kecintaan gw yang aneh pada anjing bahkan bikin gw lebih rela menerima umpatan ‘Anjing!’ daripada umpatan lain. Di tempat kedua, ada koala, panda dan penguin secara menurut gw mereka jenis-jenis hewan yang paling mirip dengan bonekanya. Ato yang bonekanya mirip aslinya ya? Yah, begitu lah pokoknya. Dan gw merasa bahagia menonton Happy Feet.

Sepanjang 2006, hampir gak ada film animasi yang berhasil menimbulkan minat gw buat nonton. Cars, the Ant Bully, Monster House, Charlotte’s Web, dan lainnya sama sekali gak menarik gw. Tapi begitu baca resensi Happy Feet, gw bilang, ‘Gw harus nonton!’

Pertama, penguin hewan favorit kedua gw. Kedua, filmnya musikal dan konon Somebody to Love-nya Queen jadi keren banget di film ini. Ketiga, Elijah Wood [yang sering disama-samain ama gw, ato sebaliknya], ikut ngisi suara. Keempat, gw pengen ajakin Mia yang masih mengalami krisis identitas untuk menentukan apakah dirinya penguin atau manusia.

Berbekal keripik jagung Chippy dan kopi dingin dalam Tupperware, gw nonton bertiga ama Om Anton dan Mia. Kami malah jadi seperti rombongan manusia, beruang kutub dan penguin. Felemnya udah mulai bentar pas kami masuk.

Gw suka banget! Gambarnya sejuk, warna-warnanya gak nyolok mata. Efek suaranya bikin 27 Mei 2006 terulang selama beberapa detik di Studio 21. Musiknya gila-gilaan! Jadi pengen tau apakah Brittany Murphy, Hugh Jackman dan Nicole Kidman beneran nyanyi. Lucunya cerdas. Gw ngakak banget ngeliat analogy manusia dengan alien, Tuhan dengan Guin si Penguasa Penguin, juga kepala sukunya Mumble ama pendeta gereja gospel. Suku penguin Mumble juga digambarin kaya Afro-American, sementara Ramon and the Latino gang mewakili kaum Hispanic.

Gw gak bisa memilih adegan favorit gw, secara banyak adegan yang bikin gw terkesima. Mulai dari the glory of birth pas Mumble lahir, pas pertama kali Mumble nyebur, juga adegan-adegan kejar-kejaran yang bikin gw ngakak dan tegang pada saat yang bersamaan. Komentar dari mulut gw juga ganti-ganti, ‘Ow.. tow tweet…’, ‘Man, they’re cute’ sampai ‘Run! Run for your life!’.

Yang ngeganjel buat gw adalah endingnya yang bahagia, meskipun bukan jenis ending yang tipikal film animasi anak-anak. Gw lebih suka kalo hidup Mumble berakhir di kebun binatang dalam keadaan schizophrenic dan delusional, supaya anak-anak ngerti bahwa kenyataan hidup bisa membawa mereka kepada keadaan seperti itu. Seperti pelajaran puteri-tidak-selalu-cantik dalam Shrek. Menyaksikan Mumble kembali lagi ke kaumnya juga sama menjengkelkannya dengan menyaksikan Superman yang idup lagi di Rumah Sakit di Superman Returns. Tapi untuk ukuran film anak-anak, ini jenis ending yang baru dan gak ketebak.

Overall, gw bahagia bisa nonton Happy Feet. Nomat lagi. Singkat kata, Happy Feet berhasil jalanin tugasnya buat ngehibur gw, meskipun gagal dapetin Golden Globe untuk Best Animated Movie karena kalah ama Cars. Sekian

No comments: