Friday, May 30, 2008

quest of finding a niche

Sudah enam minggu, dan gw masih harus jelaskan berulang kali ke banyak orang tentang kerjaan gw. Jawaban 'jadi konsultan manajemen Rumah Sakit' ternyata akan memancing pertanyaan lanjutan, 'Di Rumah Sakit mana?'. Secara otomatis file Penjelasan_Pekerjaan_Baru.MP3 terbuka di otak gw, dan bibir gw bersuara. 'Aku di PT Swasta. Gak di Rumah Sakit. Gak pegang pasien. Klien kami Rumah Sakit. Kami menyediakan jasa konsultasi manajemen buat Rumah Sakit. Jelas?' Beberapa orang cukup puas dengan jawaban ini. Beberapa lainnya menuntut jawaban yang lebih rinci. Dan meluncurlah semuanya dari bibir gw [ato jari gw kalo via YM]. Klien kami bisa Rumah Sakit yang mo berdiri ato yang udah ada. Biasanya mereka minta studi kelayakan, rencana bisnis, rencana strategis, whatever. Jadi kami harus analisis internal-eksternal. Tentuin pangsa pasar. Tentuin strategi. Bikin strategic actions. Bikin marketing plan, capacity plan, personnel plan, financial plan sampai corporate plan. Dan kalimat-kalimat lain, sampai akhirnya si penanya berhenti nanya. Sebagian diem dan bisa ngerti jawaban gw. Sebagian diem karena mabok, dan nyesel udah nanya. Pokoknya, kerjaan gw adalah bikin Rumah Sakit bisa menempatkan dirinya sesuai harapan pasar yang dituju, and run well. Bingung? Sama.

Gw ga mo ngomongin kerjaan di sini. What happens in Vegas, stays in Vegas. Kerjaan jangan dibawa-bawa ke blog hehe. Gw cuma nyari analogi yang sesuai ama cerita inti gw: perjuangan mencari bioskop yang nantinya bakal jadi langganan gw.

Di Bandung ada buanyak bioskop. Ada ?? bioskop 21, 2 Blitz Megaplex, dan entah berapa lagi. Semuanya punya value proposition sesuai dengan target pasar mereka. Megaplex menawarkan eksklusivitas dan kenyamanan, dengan harga tinggi [baca: sama ama 21 Amplaz]. 21 di BIP menawarkan diri sebagai tempat mangkal ABG, dengan fasilitas oke dan harga standar. Dan ada juga bioskop yang ga punya apa-apa buat ditawarkan.

Gw, sebagai pendatang baru, sedang berjuang mencari bioskop mana yang bisa jadi niche gw. Megaplex is friggin great. Tapi jauh dan yang jelas, MAHAL. 21 BIP kurang lebih sama ama 21 Amplaz, dengan harga hampir separonya. Tapi, dipenuhi remaja-remaja yang mungkin pre-menarche, anak-anak SMU sok dewasa, dan mahasiswa-mahasiswa sok ABG. Intinya: terlalu rame! Secara gw bakal sering nonton sorangan wae, gw males ke tempat yang rame-rame. Kesimpulannya, gw mau bioskop yang fasilitasnya oke [ga harus luarbiasa], ga mahal, dan ga rame-rame banget. Bioskop mana yang menawarkan sesuatu yang sesuai harapan konsumen macam gw?

Ada dua kandidat yang bakal gw jajaki. Pertama, 21 di Braga City Walk. Kalo ngeliat tempatnya dari luar sih kayaknya cukup menjanjikan. Braga gitu loh. Kedua, 21 di Regent Jalan Sumatera. Menengok masa kejayaan Regent di Jogja [sebelum secara tragis kebakar dan menyisakan cerita-cerita Dunia Lain], kayanya Regent yang ini patut dicoba jugak. Oke! Gw coba Regent dulu.

Perjalanan dilakukan dengan angkot. Dua kali, dari Kebon Kawung ke Stasiun, trus dari Stasiun ke Dago. Gw turun di simpang Jalan Aceh-Sumatera, secara kata 21cineplex.com alamatnyah ada di Jalan Sumatera nomer 2. Ternyata sodara-sodara, tempat gw turun adalah Jalan Sumatera 40an. Berdasarkan inpo Bapak Becak Nan Baik Hati gw disuru jalan. 'Di ujung sana, Jang, lewat rel kereta api. Jalan aja' Gw pikir, halah 38 nomer ini. Apalah artinya bagi hamstrings dan musculus gastrocnomeus saya yang sudah demikian terlatih enam minggu terakhir. Jalanlah gw.

Busyet. Rumahnya gede-gede. Udah jalan lama gw baru nyampe nomer 30an. Belum ada tanda-tanda rel kereta. Gw mendapat firasat buruk. Tapi apa daya, ini jalan satu arah. Inilah saatnya gw bersyukur masih banyak pohon gede di tepi jalan-jalan Bandung. It took me forever walking, lewatin Taman Lalulintas [taman yang aneh], rel kereta api, dan bakery yang tampaknya layak dicoba, dan akhirnya nyampe di kompleks Regent. Hosh.... Om Anton pasti bakal pingsan duluan setengah jalan. Selesaikah perjuangan gw? Belum! Gw harus naek 3 lantai sebelum akhirnya beli tiket dan langsung masuk ke Teater 2 secara Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skulls udah mo mulai. Gw duduk, ngatur nafas sambil ngeliat slide iklan yang diproyeksikan [Gosh... jadi kangen Mataram].

Dan akhirnya film dimulai. Dua jam nonton film ini bikin National Treasure serasa mediocre. It's Spielberg and Lucas, jadi tinggalkan logika Anda di kamar tidur. Waktunya berfantasi! Karakter dan chemistry tiap tokoh bener-bener ada. Gw jadi tau kenapa Calista Flockhart mau ama Opa Ford, dan kenapa Shia Le Bouf layak disebut the Hollywood's It Boy. Efeknya sebenernya ga luar biasa, banyak film yang lebih dahsiyat. Tapi aksi karakternya bikin film ini layak dibikin RPG. Yang jelas, alasan utama gw suka film ini adalah ceritanya. It's treasure hunting + Extraterrestrial beings!!! Woohoo!!! It's something I always lurrrrve. I remember the good ol days watching a show in SCTV showing proofs of encounters and testimonies of contactee with my brother. And we both believe they really exist. An guess what, Vatican has finally acknowledged them. So, like it or not, take the fact that aliens DO exist.

Gw keluar. Pipis. Trus pulang. Untunglah kali ini ga harus jalan jauh banget. Dengan angkot Gedebage-Stasiun Hall, dalam 15 menit gw nyampe Kebon Kawung.Kesimpulan dari kunjungan ke 21 Regent Jalan Sumatera: not bad, pemirsa. Mak nyus enggak, parah banget juga enggak. Kursi lumayan enak. AC kurang kerasa. Gambar biasa, suara di bawah BIP. Kamar mandi memprihatinkan. Teater cuma 3, dan yang 2 biasanya film Indonesia. Yang jelas, lumayan sepi dan sebagian besar penonton bukan ABG lagi. A niche for me? Bisa jadi. Coba Braga dulu, baru kita bisa putuskan. Tapi ga tau kapan bakal ke sana. Secara the last time I checked, they played Jones, Lost in Love dan Coblos Cinta. Musti nunggu film yang layak tonton lagi. Oke. Jadi I still haven't found what i'm looking for. Doakan saya!!

PS: setelah ngecek lagi di software peta Bandung, sebenernya gw bisa naek angkot Stasiun Hall-Sadang Serang dan turun TEPAT di depan Regent. JADI BUAT APA GW JALAN SATU KILOOOO????!!!!!

2 comments:

Anonymous said...

hi Yang...aku juga dah nonton indiana jones...dan sekali lagi GRATIS !
ahiak..ahiak..
bukannya mental gratisan sih..tapi gimana ya..ada yang baik hati banget tuh sama aku.. setelah narnia, sekarang indiana, besok lagi kungfu panda... hehehe (thx God.. engkau memberikan teman seperti Mb Andri padaku... wkakakak)

Anonymous said...

Hi shak, ternyata...
hm, jadi teringat dan terngiang kota Bandung, secara kota ini tempat kencanku dengan masku (psstttt!) hehe.
Paling ngowoh saat liat megablitzplex di PVJ, busyet kok ada 10 teater ya (maklum di Kupang ga ada ey), jogja jg ga punya sebanyak itu. Trus soal jalan kaki, wuih sekarang itu yang kualami, masih ga punya 'kaki' ke-mana2 nebeng n naik taksi (ga ada angkot ey di denpasar). Fiuh, tapi gpp lah, di sini abselotely cool! So many differences, plurality, majemuk, I think I have to see the world widely more often.