Sunday, June 25, 2006

not so hard to say i'm sorry


so so sorry for the inconvenience. Entah kenapa, post yang udah diurutin sesuai tanggal bikinnya tiba-tiba muncul berantakan tanpa aturan. Aneh...

Belum terpikir untuk mengurutkannya kembali. Alasannya: malas.
Okay, sekalian let me introduce you to Shak-o-meter, that will display the mood i've been in. Dan secara sekarang gw lagi bingung kenapa post gw bisa kacau, Shak-o-meter menampilkan avatar bermuka bingung.
Sekali lagi, maaf.

Friday, June 23, 2006

Makin absolute.


I’ve turned out to be an absolute coffee drinker. Sejak gw mulai kepaniteraan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam 9 minggu lalu, seingat gw hanya hari yang decaffeinated. Bahkan seringkali gw ga ngerasa bersalah lagi saat menikmati dosis kopi kedua. Padahal jantung gw gak henti-hentinya ingetin gw akan bahaya kopi dengan berjedug-jedug hingga iktus kordisnya begitu teraba.

Parahnya, gw jadi makin posesif. Tiap kali gw bawa kopi dalam plastik atau Tupperware dan harus berbagi dengan temen-temen, gw gak terima! Dan akhirnya gw duduk di pojokan kantin dengan segelas kopi hanya untuk gw, karena yang terpenting buat gw adalah having a personal encounter dengan kopi, bukan encounter rame-rame.

Kerugian lainnya adalah keahlian tidur gw menurun. Sebelumnya gw paling jago manfaatin waktu sesedikit apapun buat tidur. Asal ada waktu, tinggal merem, sleppp, tidur. Dan pada waktunya bangun, gw segera terjaga dengan Glasgow Coma Scale 4-5-6 alias kesadaran penuh. Sekarang gw harus menghabiskan waktu beberapa menit terbaring di tempat tidur sebelum akhirnya jatuh tertidur. Mungkin karena badan dan otak gw tetap aware akibat efek kopi. Saat bangun pun gw harus menanggung penderitaan berupa hangover selama beberapa menit sebelum benar-benar bangun.

Okay, soon as I finish Bagian Interna, gw akan mulai mendetoksifikasi kafein dari tubuh gw. Duh, instead of sakau alias sakit putau gw bakalan sakkaf nih [sakit kafein].

Introducing: Simon the Computer



4 things I missed the most selama di Banyumas:
1. Karaoke, despite the 3 songs I sang at Kafe Alun-Alun.
2. Makan kebun raya sayuran hijau dengan luapan kuah rendang di RM Padang, juga efek sampingnya: poop yang lancar dan perut yang rata.
3. Sakti, motor gay gw. Gw kangen menjelajah kota hingga tengah malam bersamanya.
4. Komputer gw. Sumber penghidupan dan tempat menyalurkan inspirasi gw melalui tulisan-tulisan tak bemutu [salah satunya yang Anda baca saat ini], atau desain grafis.

Suddenly an idea stroke my head when I was on my way back home to Jogja. Kalo selama ini gw namain motor ga Sakti, then what would I call the computer that I love as much as Sakti. Pikir-pikir… Salah satu keunggulan komputer gw adalah selain punya majikan yang tampan, dia tampil all-in-black mulai dari CPU, monitor hingga mousenya. Kehitaman ini yang bikin temen-temen gw sempet ngiri, terutama ama monitornya. Dan akhirnya satu nama muncul di kepala: Simon. This refers to one of the darkest guy in music industry: Simon Webbe.

Awalnya gw sempet raguin dia dan mengira bahwa he’d be as sucks as went-solo boyband members seperti Nick Carter, Bryan McFadden dan Ronan Keating. Bahkan saat dia memenangkan MTV Asia Award, mengalahkan James Blunt, gw sempet mencak-mencak. Ra mutu! Sering fales! Mantan model lagi! [njuk ngapa?]

Ternyata gw berubah pikiran. Setelah memutar ulang lagu-lagunya beberapa kali, he kinda reminds me of Tunde of Lighthouse Family, salah satu band yang sangat gw sayangkan kebubarannya. Musik dan liriknya juga cukup Lighthouse, even sounds more Lighthouse Family than Tunde’s solo debut!
So gak ada salahnya if I name my computer after him, secara sama-sama item dan membawa kesejukan [lu kate spring water, Mas?].

Baiklah, karena tidak ada banca’an pemberian nama, mari kita doakan sama-sama supaya Simon si Komputer bisa membawa kesegaran baru, meredam stress gw, dan membantu gw terus berkarya sebagai manusia. Juga supaya perut saya makin sekotak-kotak Simon Webbe. [penting?]

Pulang ke Hatimu


Momen terindah setiap kali gw pergi ke Banyumas adalah saat tiba waktunya pulang. Balik ke rumah, ke karpet gw, ke kamar mandi gw, ke koleksi mp3 gw dan ke temen-temen gw.
Kali ini, untuk melengkapi ke-mellow-an ultah dan karena memang kehabisan tempat, gw batal balik bareng mobil temen dan harus pulang sendiri dengan bus.

As always, belum juga setengah jam berkendara gw udah terlelap. Apalagi semalam abis-abisan di kafe ampe jam 2. Balas dendam!! Sayangnya begitu lewat Kutoarjo nafsu tidur gw lenyap, dan sepanjang perjalanan sampe Jogja gw melek semelek-meleknya. Secara bingung mau ngapain, mending bertransformasi sementara menjadi Simon Cowell dan mengomentari musisi-musisi jalanan.

1. Pengamen gak jelas, naik di sekitar Bagelen dengan ucapan ‘Ya perkenalkan, saya salah satu artis AFI yang tidak pernah masuk tipi karena saya lebih sering masuk angin.’ Opening yang luar biasa [memalukan]. Sayang tidak diimbangi dengan pemilihan lagu yang mendukung. Kenapa oh kenapa, kamu harus jadi Pasya-wannabe dan menyanyikan lagu Ungu yang entah apa judulnya? Tapi gak papa, kamu lebih bagus dari Pasya! [penilaian objektif bercampur sentiment pribadi]. Closurenya juga memikat, ‘Ya sekian tampilan dari saya karena sebentar lagi TPI akan menayangkan Uka-Uka. Satu pesan yang tidak nyambung dari saya, kalau anda batuk jangan makan makanan berminyak seperti kompor minyak, lempu senthir dan petromaks’ Wekekek, gw suka gaya lo! Here goes seribu rupiah for you.

2. Musisi berikutnya tampil berdua, cowok-cewek. Entah kenapa, meskipun dengan berat badan berlebih dan kaos seadanya, si cewek memancarkan aura ‘gw-bisa-nyanyi’ yang begitu kuat. Dan memang dibuktikan dengan lagu pertama,’Dia’. Dia bernyanyi dengan kualitas jauh di atas akademia AFI. Lagu kedua “Pilihlah Aku’, dan lagu ketiga ‘Karena Cinta’ melantun mulus, dengan goyangan dan ekspresi yang tepat guna. Sebagai pungkasan, mereka berduet membawakan sebuah lagu campursari, yang karena keterbatasan pengetahuan gw dalam dunia campursari gw gak tau judulnya. Dengan penampilan yang memikat, empat lagu pula, mereka berhasil membuat gw merogoh dompet dan menyodorkan selembar lima ribuan. Congratz!

Rasanya mulut masih ingin mengomentari musisi-musisi jalan, tapi sayangnya gw keburu sampe Gamping dan harus turun.

Turun dari bus, menarik nafas dalam-dalam. Udara Jogja pertama yang gw hirup dalam 2 minggu, meskipun bercampur asap bus jurusan Solo-Purwokerto. Sembari nunggu jemputan gw kulum-jilat-kulum sebatang Indoeskrim Meiji Legian. Nikmatnya…

Jemputan datang, pulang. Selesai mandi, memuaskan rindu pada kota Jogja: rental buku, Rumah Makan Padang dan ke warnet. Thank God I’m home….

Ngomong-ngomong soal being at home, gw teringat dengan seorang pasien di Banyumas. Laki-laki 65 tahun, tunawisma, penderita skizofrenia dan dirawat dengan kelemahan anggota gerak tubuh akibat stroke. Dia ditempatin di ruang isolasi, jauh dari pasien lain dan hanya ditengok beberapa kali dalam sehari oleh dokter, perawat, juru gizi dan petugas kebersihan. Setelah selesai dirawat, perawat kebingungan. Mau dipulangkan kemana? Dipindah ke Bagian Jiwa, dikirim ke panti jompo, atau dikembalikan ke habitat asalnya: jalanan? Gw dan seorang rekan Malaysia sempet ngobrolin pasien ini dan we called him ‘the homeless one’.

Satu hal yang sempat mengganggu gw adalah, kenapa bule-bule menyebut tunawisma dengan homeless. Padahal the word home means more than a building, tapi lebih ke a place of warmth and comfort, a place to find shelter and a place to come home to. Gw pernah rasain tinggal di rumah yang lebih dari nyaman secara fisik, tapi gw ga betah berlama-lama di dalamnya dan memilih lebih banyak di luar rumah.

Sampe gw balik Jogja belum jelas ke mana akhirnya si pasien dipulangkan. Bisa jadi si pasien lebih merasa at home di jalanan daripada di tempat penampungan atau panti jompo. Siapa tahu? Well after all, home is where the heart is, so follow your heart. Mari sama-sama kita nyanyikan satu lagu dari film 9 Naga, Shera- Pulang ke Hatimu dengan birama ¾…

Career sucide


I have just done a career suicide untuk mengakhiri kesuksesan gw sebagai koas tampan menawan nan cerdas di RSU Banyumas.

It was all started ketika dr Haidar Alatas, dokter Arab yang mengingatkan gw kepada Mike Kasem yang pernah gw tonton live semasa SMA, kasih gw pe-er karena gw ga bisa jawab pertanyaannya waktu lagi periksa pasien. Simple sih, cuma 2 pertanyaan dan bakal dia tanyain lagi besoknya. Secara gw pikir I had the whole day and night untuk mencari jawabannya, siangnya gw berfoya-foya dulu di Rumah Makan Iwak Kali Lik Tuti di Kaliori. Puasss…. Pulang langsung tepar ketiduran akibat kekenyangan.

Sorenya, ada presentasi temen-temen sampe jam 5. Oke, masih ada belasan jam sampe hari esok. Gw balik asrama, baca Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie sambil denger Yashika Purwokerto.

Jam 7 kurang baru gw mulai cari-cari jawaban pe-er. Gw mengandalkan buku saku kesayangan koas-koas Interna: Handbook of Internoid. Namanya juga buku saku, materi pun sedanya.

Jam 7 lewat 10, kerjaan gw dihentikan oleh temen gw yang nongol di pintu kamar, ‘Shak, melu ra? Aku mau ke Purwokerto, cari makan trus nonton bola di kafe..’
Nyammm… sounds great. Timbang-timbang… Alah, cuma 2 pertanyaan ini. Entar-entar atau besok juga bisa. Gw langsung terlonjak, ‘Melu!’
Siap-siap, dandan tampan dan bersepatu. Tiga pria pun melaju dari asarama.

Sampe Purwokerto cari tempat makan dulu. Diputuskan: makan di Bakmi Kelinci di deket Unsoed. Ternyata gak ada kelinci-kelincinya di daftar menu. Harganya juga di atas rata-rata. Herannya, Rumah Makan-nya rame pengunjung, 90%nya berkulit terang dan bermata sipit, dan semuanya bermobil.

Pesanan datang, ternyata rasanya memang Chinese banget. Ayam merahnya ngingetin gw ama rasa babi kalengan dari Singapore. Lumayan, bisa isi tenaga sebelum ke kafe, yang sebenernya kami belum tau lokasinya. Bermodal nekat kami nanya ke pak parkirnya. Ealah, jebul cuma tinggal belok satu blok.

Ternyata Jalan Dr Angka memang jalan penuh hiburan. Ada tempat fitness Ivana [nama yang aneh untuk tempat fitness], kolam renang Tirta Kembar, kafe DD, diskotek Tango, karaoke Lips, hotel Dynasty, dan kafe yang kata temen gw paling keren di Purwokerto: Cheers. Tengok sana tengok sini, pilih DD atau Cheers. Akhirnya kami masuk Cheers dengan cover charge yang standar: 15ribu.

Kafenya sepi [lha iyalah, baru juga jam 9an]. Berharap dapat suguhan band top 40, ternyata kami disuguhi piano dan nyanyian tante-tante above 40, dengan lagu-lagu yang bakal bikin bokap gw ikut nyanyi. Kami bertiga cuek, nonton Argentina yang mencukur habis [gundul dong..] Serbia-Montenegro dengan 6 gol.

Speaking of truth, sebenernya gw agak males nonton bola, secara buat gw nonton bola berarti wasting 90 precious minutes tanpa kepastian akan adanya gol. Mending nonton basket yang jelas hujan skor [Heat dan Mavericks apa kabar nih?] . Tapi secara ini dalam rangka hangout ama temen-temen, bolehlah. Toh bisa juga dibetah-betahin.

Selesai partai pertama, band-nya naik panggung. Ealah, jauh-jauh ke Purwokerto bandnya dari Jogja juga, deSpike. Tapi lumayan, seru. Gw cukup impressed waktu mbak-mbak yang kata temen gw dari dekat tampak buruk rupa [tenan ki!] bawain Tak Ada Logika dengan mulus, sambil goyang pula. Jeng Agnes, seingat saya belum pernah deh kamu nyanyi lagu ini tanpa lip-synch. Makanya gerakan jangan terlalu fantastic dramatic akrobatik dan spastik. Toh sampeyan bukan ledhek munyuk hehe. Temen gw yang udah menenggak 2 botol besar Bir Bintang dengan indahnya memesan botol ke-3. Dasar India gila…

Lanjut ke partai kedua, Belanda dan Pantai Gading. Heran deh, katanya Ivory Coast, kok pemainnya ebony alias item semua… Tebakan skor kami salah, jadi gagal ikutan undian berhadiah tivi.

Nongkrongin deSpike lagi sebentar baru cabut. Sampe rumah udah jam 2 lebih, telerrrr… langsung terkapar tak berdaya dengan Handbook of Internoid terbuka di bawah ranjang.

Bangun jam 6 kurang, sarapan bubur ayam dan berangkat. Niatnya sih sambil nunggu dokternya datang gw nyari jawaban pe-er, ternyata ga ada waktu! Ya wis, gw hanya siapin jawaban sekelas buku saku.

Ternyata gw sukses mempermalukan diri gw sendiri dengan menjawab ngaco. Gimana lagi, persiapan kurang, masih ngantuk pula. Si dokter sudah tampak hopeless dan hidung Abunawasnya kembang-kempis menahan emosi ‘iki bocah ganteng-ganteng kok dikeki pe-er ra digarap..’ Maap, dok…

Pulang ke asrama, berkemas, makan siang dan segera pulang. Yeah!

Filosofi Ultah



Ada kalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu.
[Dee, Lilin Merah/Filosofi Kopi, 2006]
Salah satu hal yang bikin gw pengen buru-buru balik dari Banyumas adalah the fact bahwa gw harus berulang tahun di Banyumas. Artinya, tanpa kehadiran keluarga dan temen-temen tergokil gw, karena adalah hil yang mustahal kalo Asmuni sampe nyusul gw di Banyumas. Soow, ucapan selamat yang biasanya datang dalam berbagai rupa itu hanya gw terima melalui telepon, baik dalam bentuk pesan atau phone call.
Secara udah bete, gw bikin mellow aja sekalian. Kebetulan 8 orang temen seper-koas-an gw ga ada yang ngerti kalo gw ultah dan gw sengaja ga kasih tau mereka. Pertama, karena pengen bermellow-ria. Kedua, alasan yang lebih realistis: gw ogah harus traktir mereka makan di Banyumas [cakep-cakep pelit…]. Ketiga, besoknya gw harus presentasi, jadi instead of bersenang-senang merayakan bertambahnya usia, gw harus terpekur di depan buku, bersandingkan segelas kopi dingin.
Well, akhirnya hari pun berlalu, diakhiri sms 2 piaraan gw yang emang sengaja kasih ucapan tepat sebelum hari berakhir. Ultah pun berlalu begitu aja, karena seperti kata Shakespeare, ‘What’s in a name?’, begitu juga kata Shak-peare ‘What’s in a birthday?’ Gw ogah resolusi apapun saat ultah karena buat gw resolusi bisa dilakukan kapan aja dalam setahun. Dan siapa yang bisa menjamin resolusi yang diambil saat ultah akan dapat dilakukan lebih baik daripada resolusi yang diambil tidak saat ultah? Toh satu hari tidak akan menyulap gw sebagai a brand new Shak.
Oke, lupakan soal ultah dan ke-mellow-annya meskipun gw masih mengharapkan kado-kado berdatangan. Ngomong-ngomong tentang Filosofi Kopi, buku ini membawa gw dalam beberapa jam yang menyegarkan, seperti halnya segelas kopi dingin. Nama Dee memang semacam jaminan mutu dalam kesusasteraan Indonesia. Belum pernah suatu karyanya, baik buku atau lagu, tidak memuaskan gw. Dee adalah salah satu penulis yang sangat peduli pada rima, dan grammar Bahasa. Gw cuma nemu satu kesalahan editing pada buku ini, suatu rekor untuk buku terbitan Gagas Media. Bisa jadi si editor makan gaji buta karena buku ini sebenarnya tidak perlu diedit hehe. Membacanya ditemani segelas kopi dingin di Griya Gizi Sardjito, dengan lagu Semua yang Terlambat-Marcell terngiang di kepala meskipun speaker kantin mengumandangkan Iyeth Bustami, was a few minutes that really made my day. Terima kasih Dee, terima kasih kopi.

Coasses’ nite out


Empat hari di Banyumas, kesampaian juga main ke Purwokerto.

Berdandan tampan mengenakan kaos kesayangan bermerk Proshop yang sekarang bajakannya bisa ditemukan dengan mudah di Malioboro. [plis deh..]

Pertama ke Moro. Belanja jendela alias window shopping. Ada buku dan tas yang seru-seru, tapi gw harus mengencangkan ikat pinggang. Pertama, gw masih harus lama di Banyumas. Kedua, memang berat badan gw turun.

Abis itu, makan di Kafe Alun-alun. Tumben lumayan rame, banyak anak muda Purwokerto juga. Secara gak laper-laper amat, gw cuma pesen mie bakso.
Waktunya makan! Sementara itu, mas penyanyi host menyanyikan Angel-nya Shaggy dan Where is the Love-nya BEP dengan gaya melambai yang bikin pengen nampar.

Tiba-tiba naiklah seorang om-om menyanyikan lagu Ada Band yang buat iklan Pond’s itu, tapi dengan teknik dan cengkok keroncong. Susah bayanginnya? Memang! Ada band saja sudah cukup menghilangkan nafsu makan, apalagi dengan keroncong. Iyuhhh…

Belum cukup, om-om berikutnya dengan rambut dan kacamata Deddy Dores nekat menyanyikan Words-nya Bee Gees dan Hati Yang Terluka-nya Broery [Oh God, terluka beneran gendang telinga gw..]
Temen-temen yang sudah tak tahan menderita akibat penampilan yang layak masuk Coba Lagi Award, langsung merayuku naik panggung.

Seperti biasa, awalnya gw malu-malu. Padahal sebenernya mereka tengah membangunkan singa lapar. Jelas gw bersedia.
‘Satu lagu aja lho! Santeria tok’, dengan asumsi bahwa gw sudah menguasai lagunya secara pernah menyanyikannya 150 kali waktu latihan band.

Mas pemain kibor terperangah saat gw minta nada D.
‘Tinggi lho, Mas!’
Ra papa, ra wedi. Wis biasa kok.
Lagu pun meluncur mulus, meskipun tempo MIDI sedikit terlalu cepat. Baru mau turun, bukannya penonton yang minta tambah lagu, malah mas penyanyi host-nya yang ketagihan.
‘Dua lagu lagi, Mas!’
‘Heh! Epeee?? Satu lagi aja. Gw minta bayaran lho, Mas’

If I ain’t Got You gw bawakan dengan nada dasar kerendahan dan kurang klimaks. Ya wis rapapa. Bersiap turun, mas penyanyi mencegat. ‘Lha, kan satu lagu lagi?’
Walah ya wis, biar mas-nya sekalian makan gaji buta. Bryan Adams’ Heaven dibawakan dengan mulus pada nada dasar A. Udah ah, udah kebanyakan! Harusnya mereka bayar gw… Pulang! Pulang! Melangkah ke mobil dengan sorakan ‘cieee…’ dari temen-temen.

Sempat terjadi kericuhan karena mbak kasir salah itung 2 bakso tennis jadi 11 karena nulisnya pake angka Romawi. Wuuu! Tapi mbaknya tidak berhasil diintimidasi untuk memberikan bubble tea sebagai permintaan maaf. Ya wis rapapa, itung-itung gw udah karaoke gratis 3 lagu hehe.

Pulang, nonton Desperate Housewives dan konser Dewa.
Lesson of the day: Temen-temen bilang gw paling cocok nyanyi Santeria. Berarti perasaan gw bahwa suara gw makin ngerock benar adanya. Mungkin memang harus banting setir jadi rocker nyambi dokter. Asal lebih bagus dari dr.Yongki AFI.