Wednesday, May 31, 2006

If only my eyes were cameras


Kata Ahmad Albar, dunia ini panggung sandiwara. Duh, gak zaman banget Oom, lha anak Oom aja ga main sandiwara tapi sinetron… Tapi ada benernya juga, secara kadang life turns out to be so movie-like. Kaya beberapa menit yang gw alamin di rumah sakit beberapa minggu lalu. Camera roll.... Action!

That whole week, salah satu bangsal Penyakit Dalam Sardjito geger karena ada pasien dengan luka akibat diabetes di kakinya yang udah berbulan-bulan gak diobatin. Jelas aja, bau busuk menyebar dalam radius 10 meter, padahal pintu kamarnya udah ditutup. Keluarganya mencoba menyamarkan bau dengan kopi dan pengharum ruangan. Tetep aja! Tapi setidaknya mendingan. Awalnya gw sering pake masker kalo periksa dia, tapi lama-lama gw jadi akrab dengan baunya dan masker gw pun terpaksa terdampar tanpa guna di saku jas.

Singkatnya, suatu hari keadaannya memburuk. Pengawasan pun dilakukan makin ketat. Keluarga yang di luar kota berdatangan. Sekitar jam 4 sore, mereka bahkan mengerahkan bala bantuan berupa belasan orang dari kelompok pengajian untuk berdoa bersama. Ruangan yang hanya berukuran 4 x 4 meter pun penuh layaknya bus kota jalur 15 di pagi hari. Tinggal menyewa seseorang untuk jadi kernet.

Beberapa menit kemudian, salah satu dokter minta gw lakuin EKG ama pasiennya. Beres, dok! Apa susahnya buat koas tampan, sehat dan berdedikasi ini… Gw ambil mesin EKG di bangsal sebelah. Begitu nyampe bangsal si pasien, mak.. jalanan macet! [celingak-celinguk mencari si Komo]. Ada kali 40 orang tumplek di koridor bangsal. Permisi Pak, Bu, mas koas yang cakep numpang lewat… Setelah 125 kata ‘permisi’ terucap, nyampe juga gw di depan kamar si pasien dan dicegat suaminya. Alhasil, bukannya masuk dan ngerekam gelombang jantungnya, gw malah ngobrol ama suaminya yang sudah tampak rela melepas kepergiannya. Baru beberapa kali berbalas kalimat, terdengar teriakan 2 perempuan muda dari dalam kamar. Sang suami langsung lari masuk kamar, dan mulai menangis panik bersama anak-anaknya. Ikyuuttt…

Gw masuk sambil menyurukkan dengan paksa mesin EKG, menabraki orang-orang yang menghalangi jalan. [padahal semasa kecil udah puas main boom-boom-car] Tangisan keluarga mulai meningkat volume dan intonasinya menjadi raungan, diikuti makin kerasnya suara rekan-rekan yang berdoa. Gw periksa pasiennya, baru pasang mesin. Tadaa… Udah gak ada lagi sandi rumput yang tercetak di print-out EKG, yang artinya: she’s gone.

Gw minta temen gw panggilin dokter buat nyatain kematiannya sementara gw beresin mesin EKGnya. Si dokter masuk, took a deep breath and said the cruel magic words: ibu sudah gak ada. Teriakan dan doa makin membahana. Akyu tak kuasya… Kabur, kabur, daripada gw, the drama king ini ikutan nangis histeris... Keluar kamar sambil sekali lagi menabraki orang-orang yang menghalangi jalan. Sampai di luar kamar, ealah!, puluhan orang yang membesuk pasien lain ngerumunin kamar si pasien! Pak, Bu, masa iya kami harus pasang billboard bertuliskan ‘pasiennya meninggal, dudul!’ di depan kamar pasien? Ngerti dikit napa? Emang topeng monyet, lu kerubutin?

Baru beberapa langkah, pemandangan digantikan oleh gerombolan ibu-ibu dan mbah-mbah yang saling bertegur sapa sambil bertukar cipika-cipiki. Ow great, cerdas sekali wanita tanah air kita ini, memilih rumah sakit sebagai venue acara reuni.

Langkah kaki gw berlanjut ke bangsal sebelah, melewati koridor rumah sakit dengan bermandikan cahaya matahari-pukul-5-sore yang diteruskan oleh jendela di hadapan gw. Semua yang di depan gw tampak bagai siluet. Ending yang romantis untuk beberapa menit yang mengaduk-aduk emosi.

If only my eyes were cameras, semua yang terekam dalam beberapa menit tadi akan jadi film yang bermakna. Setidaknya buat gw. Well, there are and will be times like this, yang mungkin bakal gw putar kembali rekamannya di otak gw suatu saat nanti. Kalo gitu, life is a video tape, your mind is the giant screen, and your conscience is the movie-goer yang akan memetik pelajaran dari filmnya.

PS: gambar di atas adalah foto sampul bokep berjudul 'The Doc: Ready-to-undress'

Sunday, May 21, 2006

Dim Sum Terakhir


Ini dia, salah satu buku yang membahas masalah rasialisme di Indonesia dengan gaya popular, selain [salah satunya] Ca Bau Kan, yang digunakan Nia Dinata berlatih bikin film.

Gw selalu berharap banyak dari Clara Ng, yang pernah mengguncang dunia kepustakaan Indonesia dengan trilogi Indiana Chornicle-nya. Setelah sedikit kecewa dengan buku sebelumnya, Utukki, yang terlalu berandai-andai-tak-tergapai, akhirnya Clara kembali ke dunia nyata dan menghadirkan: Dim Sum Terakhir. Sekilas judulnya mirip dengan novel Kim Wong Keltner, The Dim Sum of All Things, yang juga bercerita tentang kehidupan warga Cina perantauan di US.

Gaya tulisannya cukup manis, tidak seliar Indiana yang menyala dan penuh hasrat [halah]. Konflik dalam keluarga antara 4 orang kembar disajikan dengan sederhana dan cukup realistis, meskipun gw gak yakin 4 orang kembar bakal bisa seberagam itu karakternya. Yang pasti, selain kebudayaan Cina di Indonesia, di buku ini diulas juga tentang perlakuan buruk yang diterima warga Cina perantauan di Indonesia, khususnya pada masa Soeharto. Mulai dari susahnya urus KTP, paspor [inget iklan A-Mild?—yang bikinnya susah-susah di Thailand], keharusan mempunyai SBKRI padahal dilahirkan dan seumur-umur tinggal di Indonesia, dipanggil dengan julukan-julukan yang melecehkan, hingga dikucilkan.

Gw jadi inget beberapa cerita warga Cina di Indonesia, yang harus repot-repot mempunyai dua nama bahkan mengurus gelar Raden di Keraton supaya makin meng-Indonesia. Yang dilecehkan dengan panggilan-panggilan yang gak enak didengar. Bahkan yang niat baiknya gak bisa diterima masyarakat. Di Sardjito pun, gw mendapati dokter yang dengan sinisnya menista ‘wong-wong Cino’ sepanjang beberapa paragraf. Padahal buat warga Cina perantauan, sebutan ‘Cina’ atau ‘Cino’ [whatever] sama kasarnya dengan sebutan ‘nigger’ ato ‘negro’ bagi Afro-Americans. Ini masih dicela-cela lagi. Padahal ngakunya udah pernah kuliah di Inggris, harusnya kan lebih berpandangan luas. Malu-maluin.

Well overall, buku ini worth-to-read buat membuka wawasan kita. Gw seneng, sekarang warga Cina perantauan di Indonesia lebih bisa memperoleh hak-haknya. Hari Imlek diliburkan. Bisnis bisa makin berkembang. Bahkan salah satu calon wakil walikota Jogja juga WNI keturunan Cina. I think it’s time for us to see no colors and stop discriminating. Katanya Bhinekka Tunggal Ika…

not bad...

Akhirnya setelah 3 minggu tanpa working out, gw sempet mampir ke gym. And by surprise, timbangan yang segede gaban itu menunjukkan berat gw sekarang 62 kg yang artinya turun sekitar 1,5 kg dari biasanya. Hm..not bad, not bad at all.

Well anyway, kalo terkurung seminggu di Sardjito aja bikin berat badan gw turun 1,5 kg, gimana besok kalo gw jadi residen ya? Hmm... [membayangkan penampakan gw dengan tubuh sekurus Adrien Brody di The Pianist]

Friday, May 19, 2006

yang lebih jenius dari penemu velcro


All this time, velcro was always said to be one of the most genius things ever invented in men history. Siapapun penemunya, velcro telah digunakan world-wide untuk berbagai keperluan. Mulai dari penjahit pinggir jalan yang menyebutnya 'perekat', industri major pakaian dan sepatu, hingga orang awam yang menyebutnya 'sret-sret'.

Tapi buat gw velcro was not that genius. Setiap kali gw ukur tekanan darah pasien pake sphygmomanometer, pasien gw sering terbangun dari tidurnya gara-gara sound effect yang timbul saat gw melepas manset tensimeter yang bervelcro. masih untung mereka gak gebuk gw pake tabung oksigen karena sebel.

well, penemu velcro WAS genius. Tapi akan lebih jenius lagi orang yang bisa menciptakan velcro dengan peredam suara. Mungkin dengan melapisinya dengan karpet atau kayu, seperti di ruang pertunjukan atau studio musik. Atau dengan menciptakan velcro yang dilengkapi fasilitas silent mode layaknya henpon. Para peneliti dan ilmuwan di seluruh dunia, silahkan kerja keras buat jawab tantangan gw.

seminggu di Azkaban cabang Sekip


Kayaknya masih belum cukup juga gw menderita, di minggu keempat gw dapat giliran jaga umum. Artinya, gw harus tinggal seminggu penuh dan cuma bisa keluar RS sekitar 4 jam setiap harinya. Oh tidak, oh tidak, oh tidak…
Beberapa konsekuensinya:
1. Gw harus tidur berempat dengan 3 bed di kamar 2 x 3 meter, dengan AC yang outputnya nanggung akibat insufisiensi freon. Padahal hari-hari ini Jogja panas banget, gak siang gak malem. Duh… sampe abisin 3 baju sehari. Gerah puol… Akibatnya di hari-hari terakhir gw sempet mengalami laundry crisis alias keabisan baju. Padahal gw gak punya waktu buat pulang ambil baju. Terpaksa melakukan 3 R: reduce-reuse-recycle. Gak ding, cuma reuse aja. Situasi bertambah buruk ketika di malam terakhir tiba-tiba gw kedatangan tamu mingguan atau beberapa-harian yang bikin kancut gw lengket dan bau langu [kok ya bisa-bisanya, di RS gitu lho, lagi jaga gitu lho…hormone berlebih kali]. Yang bikin parah, gw udah gak punya kancut bersih lagi!! Mampus. Untung ada boxer serbaguna. Phew… Gw terhindar dari keharusan memakai kembali celana dalam berbekas air mani.
2. Tidak ada TV! Kecuali di bangsal-bangsal dan biasanya dikuasai oleh perawat. Jadi terpaksa gw melewatkan Deathmatch-nya Reinkarnasi Indosiar, Desperate Housewives, Arisan the series, Indonesian Idol Jumat-Sabtu dan American Idol. Sebal… Untunglah sekarang selera menonton TV perawat sudah mengalami peningkatan kelas. Terbukti, perawat-perawat di 2 dari 4 bangsal chose Indonesian Idol over sinetron-sinetron gak jelas yang mengancam stabilitas negara. Yang bikin bete lagi, komputer kami ga ada soundcard-nya, which means kami harus melewatkan malam bersunyi senyap secara Malam Kudus. Beruntung, gw lagi bawa henpon temen yang ada radionya, dan di hari-hari terakhir temen gw bawa laptop gw. Setidaknya ada sesuatu untuk didengar...
3. Tidak bisa berolahraga! Selamat tinggal gym dan kolam renang. Sebagai gantinya gw olahraga kardio: jalan keliling bangsal. Sehari bisa beberapa kilo. Belum termasuk kalo gw pengen minum es, yang artinya gw harus beli di kantin 2 lantai di bawah, atau kalo malem malah keluar RS sekalian. Alhasil, usai jaga beberapa temen bilang gw kurusan. Tapi bukti objektifnya belum didapat, secara timbangan standar gw adalah timbangan di gym, kalo pake timbangan lain sih emang turun 1-2 kilo...
4. Tidak bisa berfantasi! Yah, kecelakaan kecil yang bikin kancut gw lengket itu kan terjadi dengan sendirinya, tanpa distimulasi oleh fantasi-fantasi nakal. Yang gw maksud di sini adalah gw gak bisa ngelanjutin kebiasaan gw tidur telanjang-totally naked ato hanya dengan kancut ato boxer- dan membiarkan kulit gw dibelai lembutnya bed cover sepanjang malam. [thank God I don't have to share my room]. Padahal Jogja, khususnya Kamar Koas Interna, lagi panas-panasnya. Tapi, atas nama kerendahan hati dan ketenteraman bangsa gw urungkan kebiasaan ini, daripada ada residen ato koas yang nyelonong masuk dan mengalami gangguan histeria akut akibat kegirangan menyaksikan model-Men’s-Health-ra-dadi berbaring telanjang di Kamar Koas.
5. Yang jelas semua ini frustrated me a lot. Ditambah lagi, rambut gw yang selalu morat-marit setelah mondar-mandir di bangsal bikin gw makin merana. Akhirnya gw terpaksa mengambil salah satu keputusan terbesar dalam hidup gw: have my hair smoothed. Selama ini gw telah menyebarkan poll: Pantaskah Seorang Shak Diluruskan Rambutnya? Dari 127 partisipan, hanya satu orang yang menyetujuinya: Mas Iyan, hair dresser langganan gw. Dan 126 lainnya berkomentar: ‘Puh-leazze deh, Mas!’, ‘Mas, peraturan pertama untuk orang botak dan rambut tipis: jangan luruskan rambut’, atau ‘Rambut segitu, apalagi yang mo dilurusin?’ Tapi secara udah frustrasi berat dan gw percaya mati ama Mas Iyan, gw relakan 1,5 jam untuk menjalani rangkaian ritual pelurusan rambut ala Mas Iyan. Hasilnya, not bad. Meskipun banyak yang bilang keliatan tambah botak dan bentuk kepala gw jadi lucu, setidaknya gw ga perlu susah payah merapikan rambut 16 kali sehari. Tinggal ‘gunakan jarimu’ layaknya pake Yellow Pages.


Well at last, semuanya berakhir. Meskipun the end is actually the beginning of another episode of life, secara besoknya gw harus berangkat ke Klaten. Okay, go, pria tampan, go!

PS: gambar di atas tidak diambil di Sardjito. Tidak ada tempat dengan langit biru dramatis untuk bermain layang-layang di Sardjito. Eh, tunggu. Di atap gedung poliklinik yang baru mungkin?

Monday, May 15, 2006

Bordil. Salah. Bordir...


Terkurung seminggu di rumah sakit gak bikin gw ketinggalan ngikutin buku baru. ada dua buku yang gw baca, salah satunya Bordir oleh Marjane Satrapi. Marjane lahir di Rasht, Iran. Sekarang tinggal di Paris, dan menjadi kontributor rutin untuk berbagai majalah dan surat kabar di seluruh dunia, antara lain The New Yorker dan The New York Times.
Dia udah nulis beberapa buku anak-anak, serta memoar yang banyak mendapatkan pujian dan menjadi bestseller internasional: Persepolis: The Story of a Childhood dan Persepolis2: The Story of a Return.

Buku ini menarik perhatian gw di pandangan pertama, secara isinya gak biasa. Novel bergambar, yang banyakan gambarnya daripada tulisannya. Buku ini ceritain serba-serbi kehidupan wanita Iran, mulai dari operasi vagina (yang disebut Bordir), operasi plastik, nikah dengan orang luar negeri dan sebagainya, dan semua diceritain dengan sinis, komedi tragis dan menggelitik. Lucunya setipe film Perancis gitu. Sayang banget bukunya cepet abis dibaca, secara gak nyampe sejam udah khatam. Kayaknya asik nih difilm-in. Mungkin bakal jadi kaya film-film Nia Dinata...

the torture continues

Setelah bertumpah darah di ICCU dan UGD, pertarungan berlanjut. Kali ini Mbak Yudi, sekretaris akdemik Ilmu Penyakit Dalam, ngerjain gw sekelompok. Di jadwal yang dia bikin, tertulis bahwa gw dan 3 orang temen gw harus ngurus 4 bangsal, yang artinya satu orang harus kuasain satu bangsal yang isinya rata-rata 25 pasien. Ini jelas di atas normal, secara biasanya satu bangsal dipegang oleh 4 orang, jadi satu orang cuma urusin 6-7 pasien. Jadi setelah jatuh bangun di minggu 1 dan 2, penderitaan gw berlanjut di minggu 3. Bah!

Secara gw harus periksa 25an pasien setiap pagi, I should have been at the hospital before 6. Wataaa…. Means gw harus bangun lebih pagi, siap-siap lebih cepet, dan berangkat bahkan sebelum billboard watch di deket rumah gw dinyalain. Berangkat dengan kecepatan penuh, tak lupa ber-dadah-dadah ama mas-mas Circle-K yang stress karena trotoarnya dipake penjual jajanan pasar. Nyampe parkiran segera melakukan kendali mutu terhadap penampilan. Thanks to kaca spion Sakti… Trus naik tangga ke lantai 1 sambil menge-set senyum ke voltase tertinggi, karena gw bakal hadapin 20 pasien lebih pagi-pagi, dan belum tentu semuanya morning person. Langsung mulai pemeriksaan, tensa-tensi, ukur-ukur nadi dan suhu, ngobrol ama pasien [lebih tepatnya curhat satu pihak] sampe pasien menangis-nangis di hadapan koasnya yang tampan.

Jam 7 lewat biasanya gw udah selesai periksa semua pasien, meskipun hasilnya kemeja gw basah oleh keringat dan ramput gw udah berantakan ke mana-mana. Tenang, tenang…level ketampanan masih di atas standar. Ikut visite, ato kalo males ngabur ke Griya Gizi, kantin yang buka paling pagi di RS, dan me-recharge tenaga dan semangat dengan secangkir kopi dingin. Trus naik lagi buat laporan pagi…

Begitu terus setiap pagi selama seminggu. Belum lagi masih harus dateng sore-sore ke RS buat catat data pasien biar gak dikuliti dan dipanggang hidup-hidup di laporan pagi.
At the end of the week, gak nyangka juga bahwa I finally made it. Gw gitu lho, yang biasanya jam 6 pagi masih tidur-tiduran sambil ngumpulin nyawa dan mikirin baju mana yang bakal dipake… Ternyata gw bisa lalui semuanya dan sukses membuat 6 orang residen melontarkan pujian,’wuih jagoan, udah cakep, rajin dan bisa bangun pagi pula’. Lho, baru tahu?
Tapi bukan gw namanya kalo ga jago bersenang-senang. Di tengah gilanya jadwal gw, kok ya sempet-sempetnya gw nomat Berbagi Suami di Mataram. Demi Shanty je.. Masih sempet karaoke juga sekali hehe.


Tantangan besar lain yang gw lakuin adalah beberapa kali memeriksa pasien dengan HIV positif, tanpa sarung tangan. Padahal konon salah satu perawat di Banyumas terinfeksi HIV gara-gara matanya kecipratan darah waktu ngambil darah pasien. Jadi inget salah satu episode CSI, di mana seorang pembunuh mendapat HIV dari cipratan darah korbannya. Jadi the victim killed the murderer back.Yah, semoga tidak ada virus yang pecicilan masuk ke badan gw. Kalaupun suatu saat nanti ada apa-apa, we all know whom to blame …